SSubulussalamkota Jelajah
Ekowisata & Konservasi Hutan Leuser (Orangutan, Gajah, Jalur Trekking)

Subulussalam: Gerbang Leuser di Mana Ekowisata Bertemu Konservasi Nyata

Subulussalamkota jadi basis akses Hutan Leuser. Warga lokal, pengelola konservasi, dan wisatawan berbagi ruang di kawasan orangutan, gajah, dan jalur trekking.

Subulussalam: Gerbang Leuser di Mana Ekowisata Bertemu Konservasi Nyata

Poin Penting

  • Subulussalamkota diresmikan kota otonom 2018, terletak di ujung barat daya Aceh berbatasan dengan Sumatera Utara
  • Kawasan Leuser seluas 2,6 juta hektar meliputi Taman Nasional Gunung Leuser, hutan lindung, dan hutan produksi
  • Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Leuser diperkirakan 13.000 ekor — populasi liar terbesar di dunia
  • Konflik manusia-gajah di Aceh Tenggara dan Subulussalam meningkat seiring penyempitan koridor habitat
  • Akses utama dari Medan via Jalan Medan–Kutacane–Subulussalam (8–10 jam) atau penerbangan ke Bandara Sultan Thaha Kutacane

Kota di Pinggir Hutan Tertua

Subulussalamkota tidak terlihat seperti citra kota modern. Dari terminal bus Simpang Kiri, jalur aspal melebar ke perbukitan di mana pohon meranti dan keruing masih menutupi lereng. Kota ini lahir dari pemekaran Kabupaten Aceh Tenggara pada 2018, tapi sejarahnya sebagai tempat transit pedagang kopi, karet, dan areca dari Gayo dan Alas sudah puluhan tahun.

Sore hari di jalan Ahmad Yani, warung-warung mie aceh dan nasi goreng penuh dengan pengemudi truk yang mengangkut buah kelapa sawit ke pabrik di Kuala Simpang. Di pinggir jalan yang sama, papan besar BKSDA Aceh memperingatkan: "Hati-Hati Gajah Lintas." Bukan sekadar tanda — warga Dusun Blang Poroh, Kecamatan Penanggalan, baru saja digerakkan malam tadi karena gumpalan gajah masuk ke ladang.

"Dulu gajah lewat di hutan jauh," ucap Rusli, 52, petani kelapa sawit kecil yang juga jaga malam bergiliran. "Sekarang ladang kita jadi jalan mereka. Hutan di gunung sudah dipotong, mereka turun cari makan." Kalimat itu merangkum realitas Subulussalam hari ini: kota pertumbuhan yang berdampingan dengan tepi hutan yang menyusut.

Orangutan, Gajah, dan Jalur yang Tersisa

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Blok Selatan — yang masuk wilayah Subulussalam — jadi rumah bagi populasi orangutan Sumatera, gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan badak Sumatera. Badak sudah sangat sulit ditemui; pengamat BKSDA dan yayasan seperti FKL (Forum Konservasi Leuser) memperkirakan kurang dari 50 ekor tersisa di seluruh Leuser.

Untuk wisatawan, titik masuk paling realistis adalah melalui Desa Bukit Lawang (di sisi Sumatera Utara) atau rute Selatan via Kutacane–Kedah–Lawe Sigala-gala. Dari Subulussalam, akses ke hutan inti butuh perjalanan darat 2–3 jam ke pos pengawasan BKSDA di Lawe Sigala-gala atau Angkasan, lalu lanjut berjalan kaki.

Jalur trekking populer: rute Lawe Sigala-gala–Bukit Kederi (2–3 hari) yang melewati hutan primer dan persilangan sungai Alas. Di musim kemarau (mei–september), arus sungai tenang cukup untuk rafting kayak inflatable yang dioperasikan komunitas lokal. Musim hujan (oktober–april) membuat jalur berlumpur dan persilangan sungai berbahaya — pemandu lokal wajib.

Gajah lebih sering terlihat di area perbatasan hutan-ladang, bukan di dalam hutan dalam. Tim HEC (Human-Elephant Conflict) BKSDA Aceh dan mitra NGO rutin memantau gerakan gumpalan via GPS collar dan drone. Wisatawan yang ingin observasi gajah disarankan ikut patroli malam bersama tim — bukan tur komersial, tapi bagian dari upaya mitigasi konflik.

Ekowisata yang Dibangun dari Bawah

Berbeda dengan Bukit Lawang yang sudah punya infrastruktur homestay dan restoran berderetan, sisi Subulussalam masih minim fasilitas. Itu justru jadi peluang bagi kelompok lokal. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) "Leuser Jaya" di Desa Lawe Sigala-gala, didirikan 2021, mengelola homestay sederhana, menyediakan pemandu bersertifikat TNGL, dan mengoperasikan perahu kayak untuk penyeberangan sungai.

"Kami tidak mau jadi sekadar porter," kata Hendra, ketua Pokdarwis, saat menyiapkan nasi bungkus untuk rombongan mahasiswa biologi Unsyiah. "Kami tentukan rute, aturan sampah, dan bagian pendapatan buat dana patroli hutan." Setiap tamu membayar kontribusi konservasi Rp 150.000–200.000 per hari (termasuk pemandu, makan, dan ijin masuk TNGL) — relatif terjangkau dibanding paket komersial di sisi utara.

Pemerintah kota Subulussalam lewat Dinas Pariwisata mulai mendorong "Leuser Selatan" sebagai brand. Tahun 2024, mereka menggelar Festival Leuser Subulussalam pertama kali di alun-alun kota — pameran foto satwa, talk show petani dan pemandu, dan bazaar produk UMKM: kopi Gayo, madu hutan, tenun Alas. Belum ada jadwal pasti untuk 2025, tapi komitmen ada.

Tantangan nyata: akses jalan rusak di musim hujan, sinyal internet lemah di pos hutan, dan tekanan konversi lahan. Perkebunan sawit swasta masih mendekati zona buffer TNGL. Warga yang menjual lahan ke perusahaan sering kali tidak punya alternatif ekonomi lain. Ekowisata, kalau dikelola benar, bisa jadi alternatif itu — tapi butuh waktu, modal, dan keadilan bagi masyarakat adat Alas dan Gayo yang sudah generasi menjaga hutan ini.

Cuplikan Video

Pertanyaan Umum

Bagaimana cara ke Subulussalamkota dari Medan?

Bus/Travel Medan–Kutacane–Subulussalam (8–10 jam, Rp 200.000–300.000). Atau terbang ke Bandara Sultan Thaha Kutacane (30 menit dari Medan), lalu travel 2 jam ke Subulussalam.

Kapan musim terbaik trekking di sisi selatan Leuser?

Musim kemarau Mei–September. Jalur lebih kering, sungai aman disebrang, visibilitas hutan lebih baik. Hindari musim hujan puncak Desember–Februari.

Apakah bisa melihat orangutan di sisi Subulussalam?

Bisa, tapi butuh trekking 2–3 hari ke hutan dalam via Lawe Sigala-gala. Bukan observasi semi-liar seperti Bukit Lawang. Pemandu wajib bawa ijin TNGL dan SOP ketat: jarak 10 meter, tidak makan di hadapan orangutan, tidak flash kamera.

Apa yang harus dibawa untuk trekking 3 hari?

Tas gunung waterproof, sepatu hiking/boot karet, jaket hujan, headlamp, obat pribadi, anti nyamuk DEET, kantong plastik zip-lock untuk elektronik & sampah bawa pulang. Pemandu biasanya sedia tenda & masak.